Ketua BRA Tegaskan Tak Ada Pernyataan Mentan Amran yang Menyudutkan Pemerintah Aceh
Jamaluddin meminta masyarakat tidak menafsirkan potongan video secara sepotong-sepotong. Kementan menyatakan telah menyiapkan dukungan sekitar Rp1,7 triliun untuk pemulihan sektor pertanian Aceh pascabencana.

JAKARTA, Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) Jamaluddin menegaskan tidak ada satu pun pernyataan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman yang menyudutkan Pemerintah Aceh dalam pertemuan bersama Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Penegasan tersebut disampaikan Jamaluddin karena dirinya hadir langsung dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut. Ia mengaku mengetahui secara utuh pembicaraan antara Mentan Amran dan Gubernur Aceh.
Karena itu, Jamaluddin meminta masyarakat tidak mencermati informasi maupun potongan video yang beredar di media sosial secara sepotong-sepotong. Menurutnya, hal tersebut berpotensi menimbulkan persepsi yang tidak sesuai dengan konteks pembicaraan sebenarnya.
“Tidak ada satu kalimat pun dari Bapak Menteri Andi Amran Sulaiman dalam pembicaraan tersebut yang menyudutkan kami. Keakraban Pak Menteri dan Gubernur Aceh justru akan ada keuntungan bagi Pemerintah Aceh dalam pemenuhan hak korban bencana dan subjek reintegrasi,” ujar Jamaluddin, Sabtu (8/8/2026).
Ia menjelaskan, pertemuan di Jakarta tersebut pada dasarnya merupakan agenda BRA bersama Kementerian Pertanian untuk membahas sejumlah kegiatan dan dukungan bagi Aceh.
“Pertemuan di Jakarta pada Selasa, 4 Agustus 2026 itu sebenarnya agenda BRA dengan Kementerian Pertanian, isinya membahas beberapa kegiatan di BRA. Tidak ada persoalan antara Mualem dengan Menteri Pertanian,” katanya.
Jamaluddin juga menyampaikan apresiasi kepada Mentan Amran atas berbagai dukungan Kementerian Pertanian dalam membantu proses pemulihan Aceh pascabencana.
“Kita malah patut berterima kasih kepada Pak Menteri Andi Amran Sulaiman yang mengucurkan berbagai bantuan untuk Aceh,” ujarnya.
Menurutnya, dukungan Kementerian Pertanian mencakup revitalisasi sawah, pengadaan alat dan mesin pertanian (alsintan), penyediaan benih dan bibit, serta berbagai program bantuan lainnya bagi masyarakat dan petani Aceh yang terdampak bencana.
Jamaluddin kembali mengingatkan bahwa informasi dan video yang beredar di media sosial hanya menggambarkan sebagian kecil dari keseluruhan pembicaraan dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut.
Kementan Siapkan Dukungan Rp1,7 Triliun
Sejalan dengan penjelasan Ketua BRA, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Pertanian, Moch. Arief Cahyono, mengatakan hubungan baik antara Mentan Amran dan Gubernur Aceh Muzakir Manaf menjadi modal penting dalam mempercepat pemulihan sektor pertanian Aceh pascabencana.
“Penjelasan yang disampaikan Pemerintah Aceh sudah tepat dan sejalan dengan data yang kami miliki. Ini menunjukkan komunikasi yang baik antara Kementan dan Pemerintah Aceh, sebagaimana hubungan erat antara Pak Menteri dan Pak Gubernur,” ujar Arief.
Arief menjelaskan, Kementan telah menyiapkan dukungan pemulihan sektor pertanian Aceh dengan total alokasi sekitar Rp1,7 triliun.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp530 miliar disalurkan melalui dana Tugas Pembantuan untuk optimalisasi lahan dan rehabilitasi sawah. Sementara sekitar Rp1,2 triliun dikelola melalui satuan kerja pusat dan balai Kementan dalam bentuk bantuan alat dan mesin pertanian serta benih berbagai komoditas.
Menurut Arief, dukungan tersebut perlu segera direalisasikan agar manfaatnya dapat dirasakan petani terdampak bencana. Percepatan terutama dibutuhkan dalam penyelesaian administrasi dan usulan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) dari pemerintah daerah.
“Pak Menteri ingin mengajak semua pihak bersama-sama melakukan percepatan realisasi anggaran. Ini tanggung jawab bersama karena manfaatnya sangat dinantikan petani di Aceh,” katanya.
Selain melalui program pemerintah, Mentan Amran bersama mitra kerja juga disebut telah menyalurkan bantuan pribadi sekitar Rp40 miliar bagi masyarakat Aceh pada masa awal bencana.
Arief menilai kehangatan pertemuan antara Mentan Amran dan Gubernur Aceh pada 4 Agustus 2026 menjadi gambaran hubungan baik yang selama ini terjalin antara kedua pihak.
“Kehangatan pertemuan itu mencerminkan hubungan baik yang selama ini terjalin antara Pak Menteri dan Pak Gubernur. Ini menjadi modal penting untuk mempercepat pemulihan sektor pertanian di Aceh. Semangat percepatan ini semata-mata demi kepentingan rakyat Aceh,” ujarnya.(*)


