
KAB.BOGOR, LEUWILIANG – Sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Bogor tidak hanya diwarnai kisah para pejuang yang mengangkat senjata. Di balik pergerakan Lasykar Rakyat Leuwiliang, terdapat pula kiprah kaum perempuan yang memainkan peranan penting dalam urusan dapur umum dan perbekalan bagi para pejuang.
Salah satu sosok yang tercatat dalam sejarah tersebut adalah Ibu Hj. Siti Aisjah binti Haji Salen, pemimpin Dapoer Oemoem dan bagian perbekalan Lasykar Rakyat Leuwiliang. Ia menjadi salah satu perempuan yang turut bergerak mengikuti perjalanan perjuangan Lasykar Rakyat pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Dalam dokumentasi sejarah yang dikutip dari karya E. Sudarjat, “Kiprah TNI di Bogor” dan “Bogor Masa ‘Bersiap'”, Dapoer Oemoem yang dipimpin Ibu Aisjah terus mengikuti pergerakan Lasykar sejak masa pembentukannya di Pasarean.
Perjalanan tersebut kemudian bergerak ke Kawakilan, dilanjutkan ke Leuwiliang, Nanggung, Leuwi Peuteuy, hingga Cileksa. Pergerakan itu bahkan terus berlanjut sampai Rangkasbitung.
Kehadiran Dapoer Oemoem bukan sekadar menyediakan makanan. Dalam situasi perjuangan yang serba terbatas, urusan pangan dan perbekalan merupakan bagian penting yang menentukan keberlangsungan pasukan di lapangan.
Para perempuan yang berada di balik dapur umum harus ikut bergerak mengikuti dinamika perjuangan. Mereka menyiapkan makanan, mengatur kebutuhan perbekalan dan mendukung para anggota Lasykar yang berada di garis perjuangan.
Sosok lain yang turut tercatat adalah Siti Zuhro, yang dalam dokumentasi foto disebut berdiri di sisi kiri dan merupakan anggota Dapoer Oemoem.
Mengikuti Jejak Perjuangan Lasykar
Lasykar Rakyat Leuwiliang yang dipimpin Soleh Iskandar merupakan bagian dari kekuatan rakyat yang ikut mempertahankan kemerdekaan di wilayah Bogor dan sekitarnya pada masa revolusi.
Pergerakan Lasykar tidak berlangsung di satu tempat. Situasi keamanan dan perkembangan perjuangan membuat kelompok ini berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Dalam perjalanan tersebut, Dapoer Oemoem pimpinan Ibu Aisjah ikut bergerak bersama mereka.
Dari Pasarean hingga Rangkasbitung, keberadaan dapur umum menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan perjuangan tersebut.
Setelah melalui berbagai fase perjuangan, Lasykar pimpinan Soleh Iskandar kemudian bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan menjadi Batalyon O.
Perempuan dan Sejarah Perjuangan yang Kerap Terlupakan
Kisah Ibu Hj. Siti Aisjah memperlihatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan melalui medan pertempuran.
Di belakang para pejuang yang membawa senjata, terdapat perempuan yang memastikan kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi. Dapur umum menjadi salah satu pusat pendukung perjuangan yang memungkinkan para pejuang tetap bertahan dalam kondisi yang penuh keterbatasan.
Ibu Aisjah binti Haji Salen wafat pada 1956, beberapa tahun setelah Indonesia mempertahankan kemerdekaannya. Namun, jejak perjuangannya bersama Dapoer Oemoem tetap menjadi bagian dari sejarah perjuangan rakyat di wilayah Bogor.
Sebuah foto koleksi E. Sudarjat memperlihatkan Ibu Hj. Siti Aisjah duduk di tengah bersama jajaran pimpinan Dapoer Oemoem dan perbekalan Lasykar Rakyat Leuwiliang. Di sisi kiri tampak Siti Zuhro yang juga tercatat sebagai anggota.
Foto tersebut bukan sekadar dokumentasi lama. Ia menjadi pengingat bahwa dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, ada banyak nama perempuan yang bekerja dalam senyap, menopang perjuangan dari belakang dan memastikan para pejuang tetap memiliki makanan serta perbekalan.
Sejarah Lasykar Rakyat Leuwiliang dengan demikian tidak lengkap apabila hanya mencatat mereka yang berada di garis depan. Di balik perjuangan itu, ada perempuan-perempuan seperti Ibu Hj. Siti Aisjah dan para anggota Dapoer Oemoem yang turut menjadi bagian dari perjalanan panjang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.(*)



