NTT Memanggil, PMIT dan FPNT Cabang Bogor Bergerak Galang Dana untuk Korban Bencana


“Bukan berarti kami tidak menerima sembako atau logistik. Tetapi kami juga mempertimbangkan proses pengiriman yang membutuhkan biaya dan waktu. Kebutuhan masyarakat setelah bencana bisa berubah, terutama ketika sudah masuk tahap pemulihan rumah,” jelasnya.
Penggalangan dana berlangsung mulai 21 Agustus hingga 5 September 2026. Tidak ada target nominal yang ditetapkan secara khusus. FPNT dan PMIT berharap masyarakat dapat memberikan dukungan semaksimal mungkin sesuai kemampuan.
Di sisi lain, Fransiskus berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan awal bencana, tetapi juga memperkuat proses pemulihan. Salah satunya melalui pendataan kerusakan rumah secara menyeluruh, mulai dari kerusakan ringan, sedang hingga berat.
Menurutnya, pendataan yang akurat penting untuk memastikan bantuan diberikan secara tepat sasaran sekaligus mencegah munculnya kecemburuan sosial di tengah masyarakat akibat distribusi bantuan yang tidak merata.
“Harapannya pemerintah harus lebih fokus ke bantuan recovery rumah. Kerusakan ringan, sedang dan parah harus didata dengan tepat, sehingga bantuan bisa diberikan sesuai sasaran,” katanya.
Untuk wilayah yang terisolasi, pemerintah juga didorong segera membuka akses distribusi. Jika jalur darat belum memungkinkan, menurutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan jalur alternatif agar bantuan logistik tetap dapat menjangkau masyarakat.
FPNT dan PMIT juga menyatakan keinginannya untuk terlibat langsung dalam proses penyaluran bantuan. Mereka ingin memastikan bantuan yang dikumpulkan dari masyarakat Kota Bogor benar-benar diterima oleh warga yang membutuhkan, tanpa kehilangan tujuan di tengah proses birokrasi.
“Kami ingin terjun langsung. Kami tidak mau hanya melalui birokrasi. Kami ingin tahu sendiri apa yang mereka rasakan dan apa yang benar-benar mereka butuhkan. Karena yang terdampak adalah kampung dan keluarga kami sendiri,” tegas Fransiskus.
Bagi FPNT Cabang Bogor dan PMIT, penggalangan dana tersebut bukan sekadar aksi solidaritas. Gerakan itu menjadi bentuk kepedulian kemanusiaan sekaligus upaya mahasiswa dan pemuda untuk ikut membantu masyarakat yang tengah menghadapi masa sulit.
Dari Kota Bogor, kepedulian untuk Flores terus digerakkan. Bagi mereka, bantuan bukan sekadar soal nominal, tetapi tentang memastikan tangan masyarakat yang membutuhkan benar-benar tersentuh. (Surya SP)


