Menjemput Asa di Lahan Kering Desa Wisata Hanjeli
Hanjeli: Dari Pangan Lokal yang Terlupakan, Menjadi Napas Baru Ekonomi Desa di Waluran Mandiri, Sukabumi

KAB.SUKABUMI – Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, menyimpan sebuah kisah inspiratif tentang bagaimana tanaman pangan lokal yang hampir terlupakan mampu mengubah wajah desa. Di tengah hamparan lahan kering yang selama bertahun-tahun dianggap kurang produktif, tanaman hanjeli kini tumbuh menjadi simbol harapan, ketahanan pangan, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat melalui konsep eduwisata berbasis kearifan lokal. Desa ini dikenal sebagai Desa Wisata Hanjeli dan pernah masuk dalam 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.
Tanaman hanjeli (Coix lacryma-jobi) merupakan salah satu pangan lokal Nusantara yang telah lama dikenal masyarakat Pajampangan. Berbeda dengan tanaman pangan lain, hanjeli memiliki kemampuan beradaptasi di lahan minim air dan unsur hara. Kondisi geografis Waluran yang didominasi lahan kering justru menjadi keunggulan tersendiri dalam pengembangan tanaman ini.
Berangkat dari kepedulian terhadap semakin punahnya tanaman hanjeli, masyarakat bersama pengelola desa wisata mengembangkan konsep eduwisata yang memadukan pertanian, budaya, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Pengunjung tidak hanya menikmati suasana pedesaan, tetapi juga diajak merasakan pengalaman menanam, memanen, menumbuk menggunakan lisung, menampi, hingga mengolah hanjeli menjadi berbagai produk pangan tradisional seperti bubur, dodol, rengginang, tepung, dan nasi liwet hanjeli.
Konsep wisata berbasis pengalaman tersebut memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar dibanding sekadar menjual hasil panen. Kehadiran wisatawan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, mulai dari penyediaan homestay, kuliner khas, kerajinan tangan berbahan hanjeli, hingga jasa pemandu wisata.
Tak hanya meningkatkan pendapatan warga, Desa Wisata Hanjeli juga menjadi ruang belajar mengenai pentingnya menjaga keberagaman pangan lokal di tengah dominasi konsumsi beras. Di sini, masyarakat diajak kembali mengenal tanaman warisan leluhur yang kaya nutrisi, tahan terhadap perubahan iklim, serta memiliki potensi besar sebagai alternatif pangan masa depan.
Pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu kekuatan utama desa wisata ini. Kelompok perempuan, petani, hingga generasi muda dilibatkan dalam pengelolaan destinasi, pengolahan produk, serta pelestarian budaya lokal. Pendekatan tersebut menjadikan manfaat ekonomi dirasakan langsung oleh masyarakat sekaligus memperkuat identitas desa sebagai pusat edukasi pangan lokal.
Meski demikian, perjalanan Desa Wisata Hanjeli tidak selalu mulus. Tantangan berupa akses jalan yang sempat terdampak bencana pernah menyebabkan sejumlah kunjungan wisata dibatalkan. Namun semangat masyarakat untuk mempertahankan desa wisata tetap terjaga karena mereka meyakini bahwa hanjeli bukan sekadar tanaman, melainkan warisan budaya yang harus terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Kini, Desa Wisata Hanjeli menjadi bukti bahwa inovasi berbasis potensi lokal mampu menghadirkan perubahan nyata. Dari lahan-lahan kering yang dahulu dipandang kurang bernilai, tumbuh harapan baru berupa ketahanan pangan, pelestarian budaya, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pariwisata berkelanjutan.
Di Desa Waluran Mandiri, hanjeli bukan lagi sekadar tanaman. Ia telah menjelma menjadi identitas desa, sumber kehidupan, dan simbol bahwa masa depan dapat dibangun dengan menghargai kearifan lokal yang diwariskan para leluhur.(Mar)
