Kemarau Dua Bulan, 6.164 Warga Desa Barengkok Jasinga Krisis Air Bersih, BPBD Turunkan Bantuan
Sebanyak 1.402 kepala keluarga di 12 kampung terdampak kekeringan. Warga berharap pemerintah segera membangun sumur bor, embung, dan jaringan pipanisasi sebagai solusi permanen.

KAB.BOGOR, JASING — Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Bogor pada 2026 kembali memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah. Desa Barengkok, Kecamatan Jasinga, menjadi salah satu daerah yang paling terdampak setelah ribuan warga mengalami kekeringan akibat sumur-sumur yang mulai mengering.
Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor kembali menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat. Bantuan tersebut telah memasuki hari kedua pendistribusian pada Sabtu (25/7/2026), setelah sebelumnya dimulai pada Jumat (24/7/2026).
Sekretaris Desa Barengkok, Enjang Baehaki, membenarkan bahwa kondisi kekeringan yang terjadi telah berlangsung sekitar dua bulan dan berdampak luas terhadap masyarakat.
“Iya, saat ini hari kedua air bersih telah dikirim oleh BPBD Kabupaten Bogor. Kemarin di hari pertama pada Jumat (24/07/2026) dan Sabtu (25/07/2026), warga berantrean mendapatkan air bersih,” ujar Enjang.
Berdasarkan data pemerintah desa, sebanyak 1.402 Kepala Keluarga (KK) atau 6.164 jiwa yang tersebar di 12 kampung mengalami kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur warga mengering.
“Ada sekitar kurang lebih 1.402 Kepala Keluarga dengan 6.164 jiwa di 12 kampung di Desa Barengkok. Kemarau panjang ini sudah kami rasakan selama dua bulan,” lanjutnya.
Setiap kali mobil tangki BPBD tiba, warga langsung berdatangan membawa jerigen, ember, hingga drum penampungan air. Mereka rela mengantre demi mendapatkan pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, hingga mencuci.
Meski bantuan air bersih dinilai sangat membantu, warga berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan distribusi air melalui mobil tangki. Mereka menginginkan adanya solusi permanen agar krisis serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Salah seorang tokoh masyarakat yang ikut mengantre air bersih mengatakan, bantuan tangki air hanya mampu menjawab kebutuhan dalam waktu singkat.
“Kami tidak bisa terus bergantung pada bantuan tangki air. Harus ada sumur bor atau pipanisasi agar kebutuhan air bisa terjamin,” ujarnya.
Ia juga berharap Pemerintah Kabupaten Bogor bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dapat mempercepat pembangunan infrastruktur penyediaan air bersih di wilayah Desa Barengkok.
“Kami berharap pemerintah kabupaten dan provinsi membantu pembangunan infrastruktur air bersih. Solusi jangka panjang seperti sumur bor, embung desa, atau jaringan pipanisasi sangat dibutuhkan agar warga tidak terus mengalami krisis setiap musim kemarau,” ungkapnya.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa dampak musim kemarau tidak hanya mengancam sektor pertanian, tetapi juga menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat, yakni ketersediaan air bersih. Warga berharap langkah penanganan jangka panjang segera direalisasikan sehingga setiap musim kemarau tidak lagi menjadi ancaman bagi ribuan keluarga di Desa Barengkok.(*)



