
KAB.BOGOR, PAMIJAHAN – Tradisi budaya seperti Seren Taun dan Sedekah Bumi seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai warisan leluhur yang terus dijaga, tetapi juga menjadi momentum untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat desa.
Di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, sejumlah desa saat ini tengah menggelar rangkaian kegiatan Seren Taun dan Sedekah Bumi yang diikuti ribuan warga. Tradisi tahunan tersebut menjadi bukti bahwa budaya lokal masih hidup, diwariskan lintas generasi, sekaligus memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata berbasis budaya.(21/07)
Melalui penyelenggaraan festival budaya yang dikemas secara lebih baik, kegiatan ini dapat menghadirkan wisatawan dari berbagai daerah. Kehadiran pengunjung tentu akan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat, mulai dari pedagang kuliner, pelaku UMKM, pengrajin, petani, hingga penyedia jasa transportasi dan parkir.
Festival budaya juga dapat menjadi ruang promosi bagi produk-produk unggulan desa. Berbagai hasil pertanian, kerajinan tangan, makanan khas, hingga produk ekonomi kreatif dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas sehingga memiliki peluang pasar yang lebih besar.
Tidak hanya itu, kegiatan budaya juga mampu memperkuat identitas desa. Setiap desa memiliki sejarah, adat istiadat, dan nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi kekayaan budaya Kabupaten Bogor. Apabila dikembangkan secara berkelanjutan, tradisi tersebut dapat menjadi ikon wisata budaya yang memberikan manfaat ekonomi tanpa menghilangkan nilai sakral dan filosofi yang diwariskan para leluhur.
Pemerintah daerah bersama pemerintah desa diharapkan dapat memberikan dukungan melalui promosi, pembinaan, serta penyediaan infrastruktur pendukung agar festival budaya mampu masuk dalam kalender wisata daerah. Dengan demikian, kegiatan Seren Taun dan Sedekah Bumi tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Menyoroti Hal tersebut Ketua BUMDES Bhakti Kencana, Ayong Herdiansyah, menjelaskan, Jika dikelola secara baik, Seren Taun dan Sedekah Bumi dapat menciptakan efek berganda bagi perekonomian desa. Mulai dari meningkatnya omzet pedagang, terbukanya lapangan kerja sementara, berkembangnya sektor pariwisata, hingga memperkuat citra desa sebagai destinasi wisata budaya yang memiliki nilai jual tinggi.
“Kegiatan kebudayaan seperti Seren Taun dan Sedekah Bumi seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tradisi tahunan atau kegiatan seremonial semata. Lebih dari itu, warisan budaya ini harus mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan ekonomi masyarakat dan kesejahteraan warga desa.
Harapan kami, setiap penyelenggaraan kegiatan budaya mampu menjadi penggerak ekonomi lokal. UMKM harus mendapatkan ruang untuk memasarkan produknya, pelaku seni memperoleh penghasilan, petani dapat mempromosikan hasil bumi, serta masyarakat dapat merasakan manfaat dari meningkatnya kunjungan wisatawan.
Budaya adalah aset ekonomi. Kalau sawah menghasilkan beras, maka budaya menghasilkan identitas, peluang usaha, lapangan pekerjaan, dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, seluruh elemen, mulai dari pemerintah desa, BUMDes, pelaku usaha, komunitas budaya, hingga masyarakat harus bersinergi agar Seren Taun dan Sedekah Bumi benar-benar menjadi investasi sosial dan ekonomi bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.”Jelasnya
Di tengah tantangan ekonomi desa, penguatan sektor pariwisata berbasis budaya merupakan salah satu peluang yang layak dikembangkan. Ketika budaya, pariwisata, dan UMKM berjalan beriringan, maka manfaatnya akan dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Seren Taun dan Sedekah Bumi menjadi bukti bahwa budaya desa bukan sekadar warisan yang harus dijaga, melainkan juga aset strategis untuk membangun perekonomian, memperluas peluang usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, serta memperkuat jati diri desa di tengah arus modernisasi.(Mar)




