Headline UtamaLensa News

Ekskavasi Hari Kedua Candi Damar Ungkap Sudut Bangunan Utuh dan Dua Fase Pembangunan di Kawasan Batujaya

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat menemukan sudut barat laut Candi Damar serta indikasi dua tahap pembangunan yang memperkuat nilai arkeologis Kawasan Cagar Budaya Nasional Batujaya, Kabupaten Karawang.

KARAWANG – Tim Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jawa Barat berhasil mengungkap temuan penting pada hari kedua pelaksanaan ekskavasi pra-pemugaran di Situs Candi Damar, yang berada di Kawasan Cagar Budaya Nasional Batujaya, Kabupaten Karawang. Penemuan sudut bangunan candi yang masih dalam kondisi baik serta indikasi adanya dua fase pembangunan menjadi informasi arkeologis yang sangat berharga dalam upaya pelestarian situs bersejarah tersebut. (29/07)

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat, **Retno Roswati**, menjelaskan bahwa ekskavasi yang tengah dilakukan merupakan bagian dari tahapan awal sebelum proses pemugaran dilaksanakan.

“Hari ini merupakan hari kedua pelaksanaan ekskavasi pra-pemugaran Candi Damar. Tim ekskavasi Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat berhasil menemukan sudut barat bangunan Candi Damar. Penemuan ini sangat penting karena kondisi sudut bangunan masih terlihat sangat baik dan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai bentuk serta orientasi candi,” ujar Retno.

Berdasarkan hasil ekskavasi sementara, sudut yang ditemukan diperkirakan merupakan bagian sisi barat laut bangunan candi. Temuan tersebut memberikan data baru mengenai bentuk arsitektur Candi Damar sekaligus menjadi acuan penting dalam penyusunan rencana konservasi dan pemugaran.

Selain menemukan sudut bangunan, tim arkeologi juga mengidentifikasi adanya dua lapisan struktur bata yang menunjukkan bahwa Candi Damar mengalami sedikitnya dua tahap pembangunan pada masa yang berbeda.

“Temuan dua lapisan struktur ini menjadi informasi penting bagi penelitian arkeologi karena menunjukkan adanya fase pembangunan yang berbeda. Hal ini tentu akan menjadi dasar bagi kajian lebih lanjut sebelum dilakukan proses pemugaran,” jelas Retno.

Ia berharap kegiatan penelitian, pelestarian, dan pengembangan Kawasan Cagar Budaya Nasional Batujaya dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, akademisi, serta masyarakat.

“Kami berharap upaya pelestarian ini dapat dilakukan secara bahu-membahu antara Kementerian Kebudayaan, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota. Dengan demikian, Kawasan Batujaya tidak hanya dikenal sebagai situs bersejarah, tetapi juga berkembang menjadi sebuah ekosistem kebudayaan yang hidup, memberikan manfaat bagi penelitian, pendidikan, pariwisata, sekaligus berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat di sekitarnya,” tutup Retno.

Sementara itu, Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat, **Soni Prasetia Wibowo**, menjelaskan bahwa hasil ekskavasi pada dinding barat laut Candi Damar memperlihatkan adanya dua kemungkinan tahapan pembangunan struktur bata.

Menurutnya, tahap pertama ditandai dengan sekitar 12 lapis bata yang menjadi struktur awal bangunan. Di atasnya ditemukan tambahan sekitar lima lapis bata yang disusun secara vertikal, yang diduga merupakan hasil pembangunan pada fase berikutnya.

Selain struktur bata, tim juga menemukan lapisan tanah berwarna abu-abu muda yang berada di bawah struktur bata tahap pertama. Lapisan tersebut mengindikasikan bahwa posisinya telah berada di bawah *maaiveld* atau permukaan halaman candi pada masa itu.

Soni menuturkan, temuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa Kawasan Batujaya, khususnya Situs Candi Damar, merupakan situs multikomponen yang menyimpan lebih dari satu lapisan kebudayaan dalam satu lokasi.

Lapisan bagian atas berkaitan dengan keberadaan bangunan candi yang diperkirakan berasal dari periodisasi Kerajaan Tarumanegara. Sementara itu, lapisan yang lebih bawah diidentifikasi sebagai kebudayaan Buni yang berasal dari masa prasejarah.

Keberadaan dua lapisan budaya tersebut menunjukkan adanya kesinambungan hunian dan aktivitas manusia di kawasan Batujaya sejak masa prasejarah hingga periode klasik awal. Temuan ini tidak hanya memperkaya khazanah sejarah Jawa Barat, tetapi juga menjadi dasar ilmiah yang sangat penting dalam penelitian arkeologi, pelestarian cagar budaya, serta pengembangan Batujaya sebagai pusat edukasi sejarah dan destinasi wisata budaya nasional.(Mar)

Admin Lensa

Portal Berita Teraktual Dan Terupdate

Berita terkait

Back to top button