Berita Kabupaten & KotaDaerah

Belajar dari SWAM, IPB Dorong Warga Linggabuana Kelola Sampah Jadi Sumber Daya

KOTA BOGOR — Pengelolaan sampah berbasis masyarakat dinilai dapat menjadi pintu masuk untuk membangun lingkungan yang lebih bersih sekaligus produktif. Hal itu menjadi salah satu fokus Tim Dosen Pulang Kampung IPB University dalam mendorong warga Cluster Linggabuana, Pakuan Regency, Kelurahan Margajaya, Kota Bogor, mengembangkan pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan urban farming.

Upaya tersebut diperkuat melalui kunjungan belajar warga ke School of Waste Management (SWAM) di Kampung Gardu Dalam, Margajaya, pada Jumat, 27 Agustus 2026.

Kegiatan itu merupakan bagian awal dari program lima bulan bertajuk “Integrasi Pengelolaan Sampah dan Urban Farming untuk Penguatan Resiliensi Keluarga di Kelurahan Margajaya, Bogor.”

Program dipimpin Prof. Lailan Syaufina dengan melibatkan Prof. Arief Sabdo Yuwono, Prof. Illah Sailah, Prof. A. Faroby Falatehan, serta Iis Purnamawati, MSi.

Sejumlah unsur masyarakat turut mengikuti kegiatan, antara lain kader Posyandu, tim kebersihan, penanggung jawab kebersihan lingkungan, Ketua RW 07, pengurus Masjid Raudhatul Jannah, dan tokoh masyarakat.

Dalam kunjungan tersebut, warga mendapat penjelasan langsung dari pendiri SWAM, Prof. Dr. Arief Sabdo Yuwono, mengenai proses pengembangan pengelolaan sampah, sistem yang diterapkan, hingga tantangan yang dihadapi dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Warga juga melihat langsung proses pemilahan sampah dari sumber, penyimpanan, hingga pengelolaan sampah pada tingkat lingkungan.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah pengolahan sampah organik rumah tangga, khususnya sisa dapur. Sampah tersebut diolah melalui metode pengomposan aerobik dengan memanfaatkan larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai agen biodegradasi.

Menurut tim, proses biodegradasi berlangsung sekitar dua bulan setelah pemasukan sampah terakhir. Pengolahan dilakukan menggunakan wadah berbahan hebel yang dilengkapi lubang aerasi untuk membantu proses penguraian sekaligus meminimalkan bau dan gangguan terhadap lingkungan.

Setiap wadah memiliki volume efektif sekitar 1,4 meter kubik.

Model pengelolaan tersebut dinilai relevan untuk menjadi referensi bagi warga Cluster Linggabuana. Tidak berhenti pada persoalan mengurangi volume sampah, hasil pengolahan sampah organik juga dapat dimanfaatkan sebagai media tanam untuk mendukung kegiatan urban farming.

Dengan demikian, sampah rumah tangga tidak lagi semata-mata dipandang sebagai material yang harus dibuang, tetapi dapat diolah menjadi sumber daya yang memiliki manfaat lanjutan.

Tim Dosen Pulang Kampung IPB menilai integrasi pengelolaan sampah dan urban farming berpotensi memberikan manfaat berlapis. Selain membantu menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi sampah rumah tangga, hasil pengolahan sampah organik dapat dimanfaatkan untuk kegiatan bercocok tanam sehingga mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih produktif.

Namun, keberhasilan model tersebut tetap bergantung pada keterlibatan warga. Pemilahan dari sumber, kedisiplinan dalam pengelolaan, hingga keberlanjutan pemanfaatan hasil pengolahan membutuhkan partisipasi masyarakat secara konsisten.

Kunjungan ke SWAM pada 27 Agustus itu pun menjadi pijakan awal sebelum program memasuki tahapan penerapan dan pendampingan di lingkungan Cluster Linggabuana.

Melalui program tersebut, IPB University mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah. Sampah diharapkan tidak lagi sekadar berakhir di tempat pembuangan, melainkan dapat dikelola menjadi bagian dari solusi bagi kebersihan lingkungan sekaligus mendukung ketahanan dan produktivitas keluarga.

Pada akhirnya, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan mengangkut dan membuangnya. Perubahan justru dimulai dari rumahdari kebiasaan memilah, mengolah, dan mengembalikan sampah menjadi sesuatu yang kembali berguna bagi lingkungan dan masyarakat. (Surya Sp)

Admin Lensa

Portal Berita Teraktual Dan Terupdate

Berita terkait

Back to top button