Rocket Stove Jadi Senjata Baru Warga Kopo Hadapi Masalah Sampah

Kota Bogor — Persoalan sampah rumah tangga di lingkungan warga Desa Kopo, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, mulai mendapat perhatian dari mahasiswa Kelompok 05 Aksara KKN Mitra Orda IKMABO PEMDA Bogor UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Para mahasiswa bersama warga RT 03/RW 09 membuat *rocket stove* sebagai salah satu alternatif untuk menangani sampah rumah tangga yang tidak lagi dapat dimanfaatkan. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dengan melibatkan warga secara langsung dalam proses pembuatan.
Ketua Kelompok 05 Aksara, M. Teguh, mengatakan program tersebut tidak hanya berorientasi pada pembuatan fasilitas, tetapi juga mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap persoalan sampah dari lingkungan terkecil.
Rocket stove merupakan fasilitas pembakaran sampah tertutup yang dirancang untuk membantu mengurangi asap dari proses pembakaran. Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif bagi warga dalam mengelola sampah sekaligus mencegah terjadinya penumpukan di lingkungan permukiman.
Ketua RT 03/RW 09, Firmansyah, menyambut baik langkah mahasiswa tersebut. Ia menilai program itu dapat membantu warga sekaligus membuka kesadaran baru mengenai pentingnya pengelolaan sampah secara bersama-sama.
“Ini merupakan langkah yang baik karena mahasiswa tidak hanya datang menjalankan kegiatan KKN, tetapi juga memberikan sesuatu yang bisa dimanfaatkan warga. Kami berharap rocket stove ini digunakan dan dirawat bersama agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” ujar Firmansyah.
Usai rampung dibuat, *rocket stove* tersebut kemudian diperkenalkan dan diresmikan bersama Ketua RT dan Ketua RW setempat. Fasilitas itu selanjutnya dapat dimanfaatkan warga untuk menangani sampah yang tidak dapat digunakan kembali.
M. Teguh menegaskan keberhasilan program tersebut tidak hanya ditentukan dari keberadaan fasilitas, tetapi juga dari kesadaran warga dalam menggunakannya secara bertanggung jawab.
“Harapannya bukan sekadar ada fasilitas, tetapi muncul kebiasaan baru di masyarakat untuk lebih peduli terhadap sampah. Kalau dimulai dari lingkungan kecil dan dilakukan bersama, persoalan sampah bisa dicegah sebelum menjadi masalah yang lebih besar,” tegasnya.
Program mahasiswa KKN tersebut menjadi contoh bahwa penanganan sampah dapat dimulai dari tingkat lingkungan dengan melibatkan langsung masyarakat. Tantangannya kini berada pada keberlanjutan penggunaan dan perawatan fasilitas agar tidak berhenti sebagai program sesaat. (Surya Sp)

