Program Makan Bergizi Gratis Tuai Kritik, Dinilai Tak Sesuai Fakta di Lapangan

Kab.Bogor – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Di satu sisi, program ini dinilai sebagai langkah terobosan pemerintah dalam meningkatkan asupan gizi anak sekolah dan kelompok rentan. Namun di sisi lain, pelaksanaannya di lapangan disebut belum sepenuhnya berjalan sesuai harapan.
Sejumlah temuan di beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menunjukkan adanya pengurangan nilai dan item menu dalam penyaluran MBG. Beberapa penerima manfaat mengeluhkan porsi makanan yang tidak sesuai standar awal, serta kualitas bahan pangan yang dinilai kurang layak.
“Programnya sangat bagus dan patut diapresiasi karena menyasar kebutuhan dasar anak-anak. Tapi kenyataannya di lapangan berbeda. Ada pengurangan item menu, bahkan ditemukan buah yang sudah busuk,” ujar salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya.
Program MBG sejatinya dirancang untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi seimbang bagi peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Pemerintah menargetkan distribusi makanan memenuhi standar gizi dengan komposisi karbohidrat, protein, sayur, dan buah dalam setiap sajian.
Namun, beberapa laporan masyarakat menyebutkan kualitas distribusi masih belum merata. Selain pengurangan item menu, ada pula dugaan penurunan nilai anggaran per porsi yang berdampak pada kualitas makanan yang diterima.
Pengamat kebijakan publik menilai, permasalahan ini bukan pada konsep program, melainkan pada pengawasan dan tata kelola distribusi. “Program sebesar ini membutuhkan sistem kontrol yang ketat, mulai dari pengadaan bahan, proses memasak, hingga distribusi. Tanpa pengawasan yang kuat, potensi penyimpangan sangat terbuka,” ujarnya.
Masyarakat berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG, khususnya pada tingkat pelaksana teknis seperti SPPG. Transparansi anggaran dan keterbukaan informasi dinilai menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik.
Meski menuai kritik, sebagian masyarakat tetap mendukung keberlanjutan program ini dengan catatan adanya perbaikan sistem. Mereka menilai MBG memiliki tujuan mulia dalam memperbaiki kualitas gizi generasi muda, asalkan pelaksanaannya benar-benar sesuai standar dan tidak menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan.(Mar)


