Lensa NewsSorot

Menu Pembagian Makanan untuk Balita Disorot, Dinilai Belum Sepenuhnya Sesuai Standar Gizi BGN

KAB.BOGOR, BOGOR BARAT – Menu pembagian makanan yang diperuntukkan bagi balita menjadi sorotan setelah beredar paket konsumsi berisi roti manis, susu UHT, telur, serta buah apel dan jeruk. Sejumlah pihak menilai komposisi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan prinsip gizi seimbang sebagaimana standar pemenuhan gizi balita yang diatur dalam pedoman nasional.

Dalam paket yang diterima, terlihat dua roti manis bertabur gula, dua kotak susu UHT plain, dua butir telur, satu apel, dan satu jeruk. Secara kasat mata, menu tersebut memang telah memuat unsur protein hewani dan buah. Namun, jika merujuk pada prinsip gizi seimbang untuk balita, masih terdapat beberapa catatan penting.(24/02)

Berdasarkan pedoman pemenuhan gizi balita yang menjadi rujukan dalam program nasional, menu ideal setidaknya mengandung sumber karbohidrat utama seperti nasi atau umbi-umbian, protein hewani, sayuran, buah, serta lemak sehat dengan porsi yang disesuaikan usia anak.

Ahli gizi masyarakat menyebutkan bahwa roti manis bukanlah pilihan karbohidrat utama yang direkomendasikan untuk balita karena kandungan gula tambahannya relatif tinggi. Selain itu, dalam paket tersebut tidak ditemukan unsur sayuran yang seharusnya menjadi bagian penting dalam pembentukan kebiasaan makan sehat sejak dini.

“Balita membutuhkan asupan yang seimbang. Tidak cukup hanya protein dan buah, tetapi juga harus ada sayuran dan sumber energi utama yang tepat. Tekstur makanan pun harus diperhatikan agar aman dan mudah dicerna,” ujar salah satu praktisi kesehatan anak.

Selain komposisi, faktor keamanan konsumsi juga menjadi perhatian. Buah apel utuh, misalnya, berpotensi menimbulkan risiko tersedak apabila tidak dipotong kecil sesuai standar penyajian untuk anak usia bawah lima tahun.

Jika paket tersebut dimaksudkan sebagai makanan tambahan atau selingan, menu tersebut masih dapat diterima dengan beberapa perbaikan, seperti mengganti roti manis dengan sumber karbohidrat yang lebih sehat dan menambahkan sayuran. Namun apabila diperuntukkan sebagai menu utama dalam program pemenuhan gizi balita, komposisinya dinilai belum memenuhi prinsip keseimbangan gizi secara optimal.

Sorotan ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi pihak penyelenggara agar setiap program pemenuhan gizi benar-benar mendukung tumbuh kembang anak secara maksimal. Pasalnya, periode balita merupakan fase emas pertumbuhan yang sangat menentukan kualitas kesehatan di masa depan.(Mar)

Admin Lensa

Portal Berita Teraktual Dan Terupdate

Berita terkait

Back to top button