Ahli Gizi IPB Soroti Menu Makanan Kemasan, Nilai Belum Sepenuhnya Penuhi Prinsip Gizi Seimbang

KAB.BOGOR – Pakar gizi dari Institut Pertanian Bogor, Ali Khomsan, menilai pembagian makanan jadi atau kemasan seperti biskuit, jeruk, telur rebus, dan susu pada dasarnya tidak sepenuhnya menyimpang dari konsep gizi seimbang. Menu tersebut dinilai masih mengandung sejumlah unsur penting, seperti sumber protein dan vitamin yang dibutuhkan tubuh.
Menurutnya, telur dan susu telah mewakili sumber protein hewani, sementara jeruk mengandung vitamin yang bermanfaat bagi daya tahan tubuh. Namun demikian, ia menegaskan bahwa komposisi tersebut belum sepenuhnya memenuhi prinsip gizi seimbang sebagaimana yang dianjurkan.
“Pada prinsipnya tidak sepenuhnya menyimpang dari konsep gizi seimbang. Namun, dalam konsep gizi seimbang seharusnya terdapat makanan pokok, lauk pauk, sayuran, dan susu. Pada menu ini, unsur sayuran belum terlihat,” ujar Ali.
Ia menjelaskan, dalam konsep gizi seimbang, kehadiran sayuran memiliki peran penting sebagai sumber serat, vitamin, dan mineral yang mendukung metabolisme serta kesehatan pencernaan. Ketiadaan sayuran dalam menu tersebut menjadi catatan tersendiri yang perlu diperhatikan oleh penyelenggara program.
Selain itu, Ali juga menyoroti pentingnya diversifikasi pangan dalam pelaksanaan program pemenuhan gizi. Penggantian nasi dengan roti atau produk berbasis terigu dapat dipandang sebagai bentuk diversifikasi sumber karbohidrat. Namun, ia mengingatkan bahwa terigu bukanlah bahan pangan lokal karena berasal dari gandum yang hingga kini belum diproduksi secara luas di Indonesia.
“Penggantian nasi dengan roti atau produk berbasis terigu bisa dianggap sebagai bentuk diversifikasi pangan. Tetapi perlu diingat bahwa terigu bukan bahan pangan lokal karena berasal dari gandum yang tidak diproduksi di Indonesia,” jelasnya.
Hal ini, lanjutnya, menjadi relevan terutama apabila program tersebut juga mengusung semangat penggunaan dan pemberdayaan pangan lokal. Konsistensi antara konsep dan implementasi dinilai penting agar tujuan program dapat tercapai secara optimal, baik dari sisi gizi maupun kemandirian pangan.
Lebih jauh, Ali menambahkan bahwa aspek teknis penyelenggaraan program juga harus menjadi perhatian. Jika sistem kerja penyelenggara hanya memungkinkan operasional dari Senin hingga Jumat, maka pelaksanaan program sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tersebut.
“Jika sistem kerja penyelenggara hanya memungkinkan operasional Senin sampai Jumat, maka pelaksanaan program sebaiknya menyesuaikan. Jika Sabtu tetap dipaksakan tanpa proses pemasakan dan hanya membagikan makanan kemasan yang disalurkan pada hari Jumat, hal itu perlu menjadi perhatian dan evaluasi,” tegasnya.
Ia berharap evaluasi menyeluruh dapat dilakukan agar program pemenuhan gizi benar-benar selaras dengan prinsip gizi seimbang, mendukung pemanfaatan pangan lokal, serta dijalankan dengan sistem yang terencana dan berkelanjutan.(Mar)
