Gerakan Ayah Mengambil Rapor Tuai Pertanyaan, Orang Tua Siswa Soroti Dampak Psikologis Anak

KAB.BOGOR, LEUWILIANG – Program Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) yang diterapkan di sejumlah sekolah saat pengambilan Raport pada hari Senin (22/12/2025) mendapat beragam tanggapan dari orang tua siswa. Meski bertujuan mendorong peran ayah dalam pendidikan anak, kebijakan ini dinilai masih bersifat sementara dan memunculkan sejumlah pertanyaan terkait kewajiban serta dampak psikologis bagi anak-anak dari keluarga tidak utuh.
Sejumlah orang tua mempertanyakan apakah kehadiran ayah dalam pengambilan rapor akan menjadi kewajiban mutlak atau sekadar himbauan. Pasalnya, tidak semua siswa memiliki kondisi keluarga yang sama. Sebagian anak diketahui berasal dari keluarga yang orang tuanya telah berpisah, bahkan ada pula yang tidak lagi memiliki figur ayah dalam kehidupan sehari-hari.
“Tujuannya memang baik, tapi kami khawatir anak-anak yang tidak memiliki ayah justru merasa berbeda atau tertekan secara psikologis,” ujar salah satu orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya, Sabtu (20/12).
Menurutnya, sekolah perlu mempertimbangkan aspek psikologis anak, terutama bagi mereka yang dibesarkan oleh orang tua tunggal. Kebijakan tersebut dikhawatirkan dapat memicu rasa minder, sedih, atau perasaan tidak lengkap ketika melihat teman-temannya datang bersama ayah.
Di sisi lain, pihak sekolah menyampaikan bahwa Gerakan Ayah Mengambil Rapor dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan keterlibatan orang tua, khususnya ayah, dalam proses pendidikan anak. Kehadiran ayah dinilai penting untuk membangun komunikasi yang lebih kuat antara sekolah dan keluarga.
Namun demikian, sejumlah pendidik menilai kebijakan ini seharusnya diterapkan secara fleksibel. Sekolah diharapkan tidak memaksakan aturan tanpa mempertimbangkan latar belakang sosial dan kondisi keluarga siswa.
“Peran orang tua memang penting, tapi pendekatannya harus inklusif. Jangan sampai niat baik justru berdampak negatif bagi perkembangan mental dan emosional anak,” ujar seorang pemerhati pendidikan.
Para orang tua berharap ke depan kebijakan semacam ini disertai dengan pedoman yang jelas, termasuk pengecualian bagi siswa dengan kondisi keluarga tertentu. Selain itu, diperlukan sosialisasi yang lebih matang agar tujuan meningkatkan peran orang tua dalam pendidikan tidak menimbulkan persoalan baru di lingkungan sekolah.(Mar)




